Pentingnya Kesiapan Keluarga Dalam Pendampingan Belajar bagi Anak, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
10

anak kelas satu SD belajar dari rumah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru dari sekolah

Munculnya wabah COVID-19 pada akhir 2019 di Provinsi Wuhan China dan akhirnya menyebar ke berbagai negara dan dinyatakan oleh WHO sebagai wabah pandemic, maka berbagai kebijakan diambil oleh setiap negara dalam rangka menekan menyebarnya virus tersebut. Di Indonesia berbagai bidang dan sektor kehidupan masyarakat juga terpengaruh, salah satunya sektor Pendidikan.

Kebijakan pertama yang diambil di sektor Pendidikan terkait masalah ini adalah belajar dari rumah. Program belajar dari rumah ini sudah diterapkan sejak akhir bulan Maret 2020. Tepatnya sejak diterbitkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19. Terlepas dari plus-minus dan pro-kontra pelaksanaan program belajar dari rumah, yang jelas setidaknya kegiatan belajar anak tetap bisa berjalan selama masa pandemi ini.

Berawal dari program belajar dari rumag, selanjutnya baru-baru ini muncul lagi kebijakan merdeka belajar, yang rencananya akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2021 dalam kondisi normal baru. Tak tanggung-tanggung kebijakan ini disambut dengan gegap gempita oleh semua pihak, baik peserta didik, pendidik, pengelola sekolah, orang tua, dan pihak lain yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan.

Mungkin dengan berbagai alasan mengapa banyak pihak yang merasa senang. Dari sisi peserta didik mungkin mereka sudah merasa jenuh sudah hamper 1,5 tahun jauh dari teman-teman dan guru, dari segi guru mungkin juga mulai bosan selaku berhadapan dengan komputer/laptop saat pembelajaran, dari segi orang tua mungkin mulai capek karena harus belajar lagi pelajaran -pelajaran yang akan dipelajari anaknya karena harus mendampingi anak belajar dari rumah dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan dari MENDIKBUDRISTEK Nadiem Makarim, Jakarta, Kamis (27/08/2020), program merdeka belajar adalah kebijakan memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kebijakan merdeka belajar ini disinyalir akan menumbuhkan perilaku mandiri dalam belajar. Dalam pelaksanaannya proses pembelajaran menjadi lebih kolaboratif dan holistik. Oleh sebab itu, untuk terlaksananya kebijakan merdeka belajar secara optimal dan sukses dibutuhkan dukungan secara penuh oleh berbagai pihak, baik dinas Pendidikan (pemerintah), pendidik (guru), pengelola sekolah, orang tua, dan masyarakat.

com-Ilustrasi anak belajar sejak dini Foto: Shutterstock

Masih berdasarkan arahan MENDIKBUD, kebijakan merdeka belajar memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memilih kegiatan belajar yang cocok atau sesuai dengan mereka, bisa secara luring (tatap muka secara langsung di sekolah), daring (belajar dari rumah dengan memanfaatkan fasilitas belajar online) maupun blendid (50% tatap muka langsung di sekolah dan 50% belajar di rumah dengan memanfaatkan fasilitas belajar online.

Dilihat dari berbagai pihak yang nantinya akan terkait dalam kelancaran kebijakan merdeka belajar, salah satu pihak yang sangat berperan adalah orang tua/keluarga. Karena kebijakan ini secara tidak langsung menuntut partisipasi aktif keluarga dalam memonitor dan mendampingi anak belajar di rumah, agar hasil yang diperoleh anak sesuai dengan harapan. Setiap keluarga perlu memiliki pemahaman yang benar tentang merdeka belajar, sehingga yang mereka ketahui tidak hanya sekadar kata setuju atau tidak setuju dengan kebijakan merdeka belajar tersebut. Lebih lanjut seharusnya setiap keluarga yang memiliki anak-anak yang masih sekolah juga perlu diberikan pelatihan atau sejenisnya sehingga mereka dapat mendampingi dan membantu anaknya saat kesulitan memahami materi saat pembelajaran daring.

Hal ini menjadi sangat penting karena keluhan yang terjadi di lapangan selama dilaksanakannya pembelajaran di rumah adalah banyak orang tua yang bingung/tidak paham bagaimana memberikan solusi ketika anak-anak mereka kesulitan memahami materi pelajaran atau tugas-tugas yang diberikan oleh guru mereka. Sebagian orang tua hanya menunggui anaknya belajar bukan mendampingi dan mengarahkan. Kondisi keterbatasan ini jugalah yang senantiasa memicu banyak terjadinya kekerasan pada anak saat diterapkannya pembelajaran dari rumah.

Keluarga/orang tua perlu dipersiapkan agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam mendukung kebijakan merdeka belajar. Pihak terkait, dalam hal ini dinas pendidikan, pihak sekolah atau kampus perlu memikirkan ini dan berkontribusi. Bisa dalam bentuk menghidupkan berbagai program parenting, komite sekolah dan lain sebagainya. Semoga dengan kesadaran kita semua bahwa begitu beragamnya kondisi keluarga/orang tua dan masyarakat maka bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak akan menambah kesiapan keluarga/orang tua berpartisipasi aktif menyukseskan kebijakan merdeka belajar.

**Dr. Ismaniar, M.Pd.

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban