Menanti Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2021, Resesi Masih Membayangi, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
8

Ilustrasi kemiskinan Foto: Reuters/Ezra Acayan

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2021. Sejumlah pihak memproyeksi bahwa Indonesia masih mengalami resesi di periode Januari-Maret tahun ini karena perekonomian yang mengalami kontraksi atau minus di periode tersebut.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky memperkirakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2021 sebesar minus 0,6 persen. Angka ini anjlok jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu 2,97 persen.

Namun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, perekonomian di tiga bulan tahun ini mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal IV 2020, pertumbuhan ekonomi minus 2,19 persen.

“Pertumbuhan PDB di triwulan I 2021 diperkirakan mencapai minus 0,6 persen, estimasi di kisaran minus 0,8 persen hingga minus 0,4 persen,” ujar Riefky kepada kumparan, Rabu (5/5).

Secara keseluruhan hingga akhir tahun ini, dia memproyeksi ekonomi tumbuh di kisaran 4,4-4,8 persen. Angka ini masih lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang bisa menembus 5 persen.

“Untuk kembali ke tingkat pertumbuhan sebelum pandemi, Indonesia menghadapi tantangan dalam proses vaksinasi dan penyebaran virus COVID-19 di jangka pendek, risiko ‘taper-tantrum’ dan mandat untuk mengembalikan defisit APBN di tahun 2023 dalam jangka menengah, dan tantangan untuk melakukan reformasi struktural di jangka panjang,” jelasnya.

Ilustrasi resesi ekonomi. Foto: Pixabay

Sementara itu, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute (DRI) Moekti P Soejachmoen memproyeksi ekonomi masih terkontraksi atau minus 1,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy) dan minus 1,24 persen secara kuartalan (qtq) di kuartal I 2021. Hingga akhir tahun ini, PDB diperkirakan mencapai 3,39-4,31 persen.

Menurut Moekti, pemulihan ekonomi berlanjut dengan laju yang lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya. Realisasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), khususnya program perlindungan sosial, tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga karena mobilitas masyarakat masih terkendali.

“Investasi melambat yang tercermin dari kontraksi pertumbuhan kredit investasi serta melambatnya FDI dan pembangunan infrastruktur. Neraca perdagangan tetap tinggi tetapi lebih rendah dari periode sebelumnya didorong oleh impor yang lebih tinggi,” jelas dia.

Secara rinci, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih minus 1,06 persen (yoy) dan belanja pemerintah minus 8,64 persen (yoy). Sementara untuk investasi, ekspor dan impor mulai positif, yakni masing-masing sebesar 0,11 persen (yoy), 0,87 persen (yoy), dan 9 persen (yoy).

“Sementara itu, di tengah potensi perbaikan di atas, volume perdagangan berpotensi turun di kuartal berikutnya, didorong oleh gelombang kedua kasus COVID-19 di India, terutama ekspor minyak sawit karena mencakup 17 persen dari total ekspor sawit,” katanya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memproyeksi ekonomi berada di kisaran minus 0,5 persen hingga minus 1 persen di kuartal I 2021. Menurutnya, konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, masih belum pulih dari pandemi COVID-19.

Ilustrasi pasar sepi pembeli akibat kelesuan ekonomi. Foto: ANTARA FOTO / Bayu Pratama S

“Kalau kita lihat dalam empat bulan terakhir di 2021, kita prediksikan kuartal I 2021 pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran negatif, masih kontraksi tapi sudah jauh lebih tipis yaitu minus 1 sampai dengan minus 0,5 persen,” tambahnya.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi masih minus 0,5 persen hingga minus 0,3 persen di kuartal I 2021.

Konsumsi rumah tangga akan berada antara minus 1,5 persen hingga minus 1,3 persen di kuartal I 2021. Sementara untuk konsumsi LNPRT diprediksi tumbuh antara 0,3 persen sampai dengan 0,5 persen.

Selain itu, belanja pemerintah diprediksi tumbuh antara 3,3 persen sampai 3,7 persen, investasi (PMTB) masih terkontraksi antara minus 2,2 persen hingga minus dua persen, ekspor tumbuh 7,6 persen, sedangkan impor tumbuh 3,0 persen.

Airlangga memperkirakan kondisi ekonomi mulai membaik di kuartal II tahun ini. Dia memproyeksi, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,9 persen hingga 7,8 persen di periode April-Juni 2021.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya juga memproyeksi ekonomi kuartal I 2021 masih berada pada zona negatif. Angkanya antara minus 1 persen sampai minus 0,1 persen.

“Kalau kita lihat dari dari sisi perkiraan pertumbuhan ekonomi ini untuk kuartal I di Kementerian Keuangan masih di dalam range antara minus 1 persen mungkin yang terdalam hingga minus 0,1 persen,” kata Sri Mulyani dalam video conference tentang APBN KiTa, Selasa (23/3).

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban