Luhut Jelaskan Upaya Baru Jokowi Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
11

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Uji Swab untuk Tenaga Kesehatan, Polisi, TNI, dan Satpol PP di Jakarta, Kamis (1/10). Foto: Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan bicara soal komitmen Indonesia dalam mengatasi emisi gas rumah kaca. Salah satunya dengan terus mengembangkan teknologi dalam mengurangi emisi dan serapan industri rumah kaca, ketersediaan data sampai mendukung adaptasi mitigasi iklim.

Menurut Luhut, sebagai langkah serius terjun ke pasar karbon atau carbon trading, Presiden Jokowi saat ini tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden terkait penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.

“Penyelenggaraan nilai ekonomi karbon nantinya akan diatur dalam aturan yang menjadi pedoman aturan emisi GRK. Kebijakan dalam pencapaian dan kontribusi GRK dan pengaturan pembangunan nasional rendah karbon yang akan segera ditetapkan dalam RPP nilai karbon,” ujar Luhut dalam CEO Talks Webinar bertajuk Sustainability Executiveconnect, Rabu (5/5).

Luhut mengatakan, regulasi khusus dalam perdagangan karbon ini perlu dikeluarkan pemerintah. Mengingat besarnya kontribusi hutan Indonesia dalam mengurangi efek karbon yang dihasilkan negara-negara industri.

Dalam 35 tahun terakhir, Sumatera telah kehilangan setengah dari hutan tropis yang mengakibatkan turunnya kualitas kesuburan tanah.
Foto: Shutterstock

Misalnya dari lahan hutan mangrove seluas 3,31 hektare yang ada di Tanah Air, mampu menyerap karbon atau emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang cukup besar. Menurut Luhut, Indonesia dalam peta carbon trading termasuk negara dengan cadangan karbon yang cukup tinggi di dunia.

“Indonesia sendiri merupakan negara terbesar dalam cadangan karbon, yang mencapai 75 sampai 80 persen dari cadangan karbon dunia. Ini bersumber dari kekayaan alam yang Indonesia miliki,” pungkasnya.

Adapun rinciannya kata Luhut, hutan mangrove menyimpan 20 persen dari cadangan dunia, atau setara 33 gigaton. Selanjutnya lahan gambut menyimpan 37 persen cadangan atau setara 55 gigaton, serta hutan tropis dengan luasan 125 juta hektare menyimpan 25,18 gigaton.

“Kebijakan pemerintah ini dapat mendorong pengurangan emisi karbon dengan cara paling efektif dan efisien. Termasuk untuk menyediakan dana kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mencapai target melalui perdagangan karbon, pajak karbon, pembayaran berbasis kinerja dan mekanisme lainnya sesuai perkembangan pengetahuan dan teknologi,” pungkas Menko Luhut.

Sebagai gambaran, perdagangan karbon merupakan kompensasi yang harus diberikan oleh negara industri maju sebagai penghasil karbon untuk membayar kerusakan lingkungan akibat asap CO2 yang dihasilkan, kepada negara penyerap karbon pemilik hutan. Mekanisme carbon trading ini telah menjadi solusi yang digunakan beberapa negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Misalnya saja Pemerintah Norwegia memberikan dana sebesar Rp 812 miliar kepada Indonesia pada pertengahan tahun 2020 karena dinilai telah melakukan reforestasi.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban