Fotografer Hajatan di Kampung Harus Banyak Sabar, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
6

Fotografer dan Videografer Kampung. Sumber : Dokumen Pribadi

Fotografer dan videografer adalah pekerjaan yang keren untuk sebagian orang. Kedua bisnis ini juga cukup menjanjikan meskipun memang modal untuk memulai kedua bisnis ini tidaklah sedikit.

Di kota-kota besar dalam sekali pemotretan baik itu wedding maupun prewedding, fotografer biasanya dapat mengantongi laba bersih sekitar 1-3 jutaan, tetapi tidak dengan fotografer di kampung. Kehidupan para fotografer kampung tidak seindah gambaran fotografer di kota. Terutama bagi para fotografer hajatan yang mudah kalian temui di acara-acara pernikahan atau khitanan.

Fotografer VS Hapegrafer

Tidak adanya plotingan tempat yang jelas ketika akad nikah biasanya menyebabkan para keluarga dan tamu undangan berkerumun dan ikut berdesakan untuk menyaksikan prosesi ini. Tempat yang sempit menyebabkan para penonton harus berdesakan pun dengan sang fotografer.

Tak jarang sang fotografer harus berebut tempat dengan para hapegrafer (para pengunjung yang memotret dengan kamera ponsel. Ini menyebabkan sang fotografer dapat kehilangan moment dan tidak bisa mendapatkan angle yang bagus.

Kamera Digital Itu Barang Langka

“A pilemnya masih ada?”

Itu salah satu pertanyaan yang biasanya ditanyakan oleh orang yang sudah punya cucu minimal dua. Kamera merupakan barang yang mewah bagi orang-orang di kampung dan tidak banyak yang memilikinya.

Hal ini menyebabkan tidak semua mereka tau tentang teknologi kamera digital yang sudah tidak menggunakan roll film. Mereka menganggap jika fotografer disewa dengan paket sekian foto maka jumlah jepretan fotografer pun hanya segitu jumlahnya, padahal dengan kamera digital jumlah jepretan foto menjadi tidak terbatas oleh hitungan roll karena memory card dapat memuat foto yang banyak (red: ratusan), meskipun memang tidak semua hasil jepretan akan dicetak, tetapi seluruh soft file foto akan diberikan.

Dekorasi Menjengkelkan dan Lokasi Sempit

Sangat sedikit masyarakat di kampung yang menyewa gedung untuk hajatan. Biasanya mereka memanfaatkan rumah sebagai tempat acara selain agar tidak mengeluarkan biaya, hal ini juga dianggap lebih berkesan.

Sayangnya tidak semua rumah memiliki space yang cukup untuk melangsungkan acara pernikahan. Hal ini menyebabkan mereka bisa saja menyimpan pelaminan di dalam rumah yang ruangannya sempit. Fotografer menjadi tidak leluasa untuk memotret dan kebingungan menempatkan umbrella light (payung ke balik khas fotografer). Bahkan saya pernah memotret dengan jarak antara saya saat memotret dengan pelaminan hanya berjarak 2 langkah. Hadeh kepaksa deh kalo pengin foto grup harus diajak keluar rumah dulu tanpa background pelaminan.

Belum lagi tukang dekorasi yang kadang tidak memikirkan nasib kami para fotografer sebagai sesama pejuang hajatan. Tiang tenda yang berada tepat di depan pelaminan menjadi hal yang sering ditemui. Entah disengaja ataupun memang terpaksa karena lahan yang sempit, tetap saja ini menjadi masalah bagi kami para fotografer.

Dekorasi tenda warna warni yang semi-transparan lalu terkena sinar matahari membuat pelaminan dan sekitarnya terkena bias cahaya berwarna, bisa merah, kuning, hijau,biru, pokoknya rupa-rupa warnanya. Ini sangat berpengaruh pada hasil foto ketika memotret wajah. Wajah sang pengantin yang sudah makeup berjam-jam bisa tidak terlihat hasilnya dan malah wajahnya berwarna biru seperti smurf.

Kejadian Tak Terduga

Biasanya acara di kampung tidak memiliki perencanaan teknis yang jelas sehingga tidak memikirkan plan B jika terjadi hal yang tidak terduga seperti hujan.

Suatu ketika saya pernah kebanjiran ketika acara sedang berlangsung. Tenda yang bocor dan air menggenang di sekitar lokasi, acara menjadi tidak kondusif, grup musik dangdut pun berhenti sejenak. Para biduan dengan sepatu yang berhak tingginya dua jengkal pun akhirnya nyeker dan lari mencari tempat berteduh.

Saya dengan sigap langsung menyelamatkan peralatan tempur saya sambil basah-basahan, meskipun saya membawa umbrella light, tetapi itu bukan payung untuk melindungi diri dari hujan. Akhirnya saya harus berteduh di halaman rumah tetangga dan gabut nggak bisa ngapa-ngapain.

Kerja Full Day, Harga Murah dan Masih Ditawar Pula

Di kampung acara pernikahan biasanya mulai dari jam 8 pagi dan berakhir jam 4 sore. Selama itu juga kami harus stay di lokasi, beruntung kalau keluarga pengantinnya baik, kita biasanya disediakan kopi dan rokok, tetapi kalau lagi apes nggak dikasih apa-apa, harus keluarin modal sendiri.

Harga untuk jasa foto di kampung tidak setinggi di kota yang bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam sehari. Untuk satu acara pernikahan umumnya dihargai 600 ribu untuk foto 2 roll dan 600 ribu untuk video 2 kaset DVD (berdurasi sekitar 40 menit per kaset). Ya, meskipun sudah digital, tetapi di kampung masih menggunakan istilah roll untuk mematok harga mungkin, itu lebih familiar di telinga mereka. Satu roll berisi 40 foto.

Harga ini cukup membuat para fotografer kota geleng-geleng kepala ketika mendengarnya karena harga yang terlalu rendah. Namun tidak dengan shohibul hajat alias yang punya hajatan, masih aja ditawar dengan dalih “Ya Ampun cuma foto kok mahal banget”, tak jarang kami harus bernegosiasi harga dengan shohibul hajat seperti pedagang dan pembeli baju di pasar memperebutkan uang Rp 50 ribu.

Hal yang bikin kesal saat mereka nawar harga adalah di saat yang bersamaan mereka nyawer biduan dangdut pake duit gepokan banyak banget. Belum lagi acara yang megah dengan dekorasi layaknya istana, grup musik live lengkap dengan suara speaker yang menggelegar menunjukkan bahwa acara ini cukup mewah, tapi untuk sekadar membayar foto yang harganya ratusan ribu mereka masih nawar.

Padahal tanpa adanya jasa dokumentasi, maka dekorasi pesta, grup musik dan semua kemewahan acara tersebut tidak akan abadi dan tidak akan bisa dikenang beberapa tahun ke depan. Fungsi dan peran fotografer inilah yang sering tidak disadari, menyebabkan fotografer wedding kurang dihargai.

Fotografer Harus Bisa Jadi Panitia Acara

Jika anda seorang fotografer kampung, maka keahlian yan anda butuhkan bukan hanya mengoperasikan kamera dan mempelajari triangle exposure. Anda harus tau bagaimana membuat roundown acara, membuat plotingan tempat bahkan menjadi time keeper. Sewaktu-waktu skill-skill tersebut akan dibutuhkan ketika anda berada di situasi hajatan.

Tidak adanya EO atau WO yang mengatur dan mendesain jalannya acara menyebabkan acara berjalan tanpa aturan yang jelas. Sebagai fotografer yang sudah sering berada di acara hajatan, secara tidak langsung ia mempunyai kewajiban untuk mengatasi ini. Kita bisa saja menjadi fotografer merangkap ketua panitia hajatan yang menentukan kapan sambutan, serah terima, akad nikah, resepsi, dan lain-lain.

Beberapa hal di atas baru sebagian dari banyaknya suka duka menjadi fotografer kampung. Semoga saja hal ini dapat mewakili perasaan para fotografer kampung yang masih sering diabaikan di kalangan masyarakat desa padahal memiliki fungsi dan peran yang penting dalam mendokumentasikan setiap acara yang berlangsung. #SavePhotographerKampung

BACA JUGA

Dari Hobi Jadi Cuan, Kisah Fotografer Indonesia yang Berkarya di Taiwan

Ngambil Foto Terlalu Dekat, Mempelai Pria Cemburu dan Pukuli Fotografer

Lika-liku Mahasiswi Fotografer, Berawal dari Hobi hingga Hasilkan Uang

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban