Doni Monardo: Waspada Kepulangan TKI Habis Kontrak dan Varian Baru Corona, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
6

Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama Pemerintah Provinsi NTT di Nusa Dua, Bali, Sabtu (3/4). Foto: BNPB

Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo kembali mengingatkan tren kasus aktif virus corona di Indonesia yang semakin membaik. Bahkan, kasus aktif saat ini menjadi yang terendah sepanjang satu tahun terakhir, yaitu 5,88 persen.

Angka kesembuhan juga mencapai rekor dengan persentase 91,39 persen. Sementara yang masih harus diperbaiki adalah angka kematian yang masih di atas angka kematian global.

“Bapak Presiden dalam beberapa kesempatan mengatakan ini sudah bagus. Jangan sampai diubah lagi, jangan sampai ada lagi kebijakan yang membuat kasus aktif di daerah bertambah,” kata Doni dalam keterangannya, Rabu (5/5).

Doni pun menegaskan pentingnya mempelajari kasus yang terjadi di sejumlah negara tetangga. Salah satunya peningkatan kasus yang disebabkan varian baru corona.

“Contohnya sekarang kita banyak menerima kepulangan PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang sudah habis masa kontraknya. Di antara mereka tidak sedikit yang diperiksa ternyata mereka positif COVID. Bisa dibuktikan dari kedatangan di Kualanamu, Kalimantan Barat, serta juga di Jakarta, dan Bandara Juanda, Surabaya,” ungkapnya.

“Jadi dengan adanya varian-varian baru ini, diharapkan kita harus waspada,” tegasnya.

Meski situasi penanganan pandemi corona di Indonesia sudah baik, bukan berarti masyarakat bisa lengah. Ia menegaskan protokol kesehatan masih menjadi kunci untuk terhindar dari paparan virus corona.

Suasana kedatangan Pekerja Migran Indonesia asal Banyuwangi. Foto: Dok. Istimewa

“Protokol kesehatan adalah kunci bangsa kita untuk terhindar dari ancaman COVID. Disiplin dan konsisten merupakan salah satu solusi bagi bangsa kita melakukan pengendalian COVID,” tuturnya.

Doni mengatakan pentingnya sosialisasi ke masyarakat terkait kebijakan dan bahayanya COVID-19 kepada masyarakat. Ia menilai lebih baik pemerintah cerewet daripada korban yang berjatuhan terus bertambah.

“Tidak ada pilihan lain. Karena masyarakat yang nekat mudik ini 7 persen. 7 persen dari 250 juta itu 18,9 jutaan orang. Tugas kita adalah mengurangi angka ini sekecil mungkin,” pungkasnya.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban