Ditekan China, Nilai Fintech Terbesar Dunia Milik Jack Ma Terpangkas Setengah, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
6

Aplikasi Non tunai Alipay. Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan

Di tengah tekanan regulasi keras dari pemerintah China, fintech terbesar di dunia milik Jack Ma, Ant Group, mesti mengalami penurunan valuasi hingga 48 persen, menurut penilaian terbaru dari manajer aset Fidelity Investment.

Wall Street Journal melaporkan, Ant Group hanya memiliki valuasi 144 miliar dolar AS dalam penilaian terbaru dari Fidelity Investment per Februari 2021. Nilai fintech tersebut turun drastis jika dibandingkan penilaian terakhir pada Agustus 2020 lalu yang mencapai 295 miliar dolar AS.

Fidelity Investment sendiri merupakan salah satu investor elit di belakang Ant Group. Berdasarkan prospektus IPO Ant Group, Fidelity Investment membeli saham mereka senilai 238 miliar dolar AS atas nama beberapa dana pada 2018 lalu.

Dengan demikian, valuasi Ant Group terbaru berada di bawah harga yang awalnya dibayarkan Fidelity Investment. Penilaian baru tersebut juga merefleksikan keyakinan Fidelity Investment bahwa investasi mereka di Ant Group dapat menimbulkan kerugian.

Baik Ant Group dan Fidelity Investment masih bungkam atas laporan Wall Street Journal ini.

Antara Ant Group, Jack Ma, dan pemerintah China

Proyeksi penurunan nilai Ant Group dari investor muncul tatkala fintech milik raksasa e-commerce Alibaba itu sedang ditekan oleh pemerintah China dalam beberapa bulan terakhir.

Ant Group, yang baru berdiri pada 14 Oktober 2016, sebelumnya merupakan salah satu startup fintech dengan perkembangan paling pesat di dunia. Layanan pembayaran Alipay dari Ant Group, misalnya, memiliki lebih dari 730 juta pengguna bulanan di China dan menangani lebih banyak transaksi setahun daripada Mastercard atau Visa.

Pada akhir tahun lalu, fintech tersebut bahkan berhasil mengumpulkan dana hingga 37 miliar dolar AS saat penawaran umum perdana (IPO) di bursa saham Shanghai dan Hong Kong.

Namun, rekor pendanaan terbesar di dunia itu kemudian dibatalkan pada November 2020 oleh pemerintah China. Sanksi ini dipicu oleh pidato kontroversial Jack Ma di Shanghai yang mengkritik sistem regulasi Negeri Tirai Bambu.

Jack Ma, Direktur Eksekutif Alibaba Foto: REUTERS/Stephane Mahe

Setelah IPO Ant Group dibatalkan–dan drama ke mana Jack Ma menghilang selama tiga bulan–perusahaan tersebut ditegur oleh regulator China karena dianggap menyimpang terlalu jauh dari akarnya sebagai penyedia pembayaran. Pemerintah China kemudian memerintahkan Ant Group untuk berubah menjadi perusahaan induk keuangan.

Perubahan tersebut membuat Ant Group harus tunduk pada peraturan dan persyaratan modal yang serupa dengan yang mengatur bank. Pada akhirnya, perubahan ini akan membatasi aktivitas Ant Group dan mengubah mereka lebih seperti lembaga keuangan yang tumbuh lambat daripada perusahaan teknologi yang berkembang pesat.

“Restrukturisasi ini secara efektif membagi Ant menjadi beberapa bisnis independen untuk menghentikan Alipay menjadi aplikasi super yang mampu mengendalikan kehidupan sehari-hari masyarakat China,” kata analis Lightstream Research Oshadhi Kumarasiri, kepada Reuters.

“Kami yakin ini akan membatasi prospek pertumbuhan Ant dan juga membuka pasar untuk persaingan.”

Pada 13 April 2021, Ant Group mengumumkan bahwa mereka akan mengajukan permohonan untuk menjadi perusahaan induk keuangan yang diawasi oleh Bank Rakyat China. Dua hari sebelumnya, fintech milik Jack Ma itu diberi sanksi senilai 2,75 miliar dolar AS oleh pemerintah China dalam kasus anti-monopoli.

Menarik untuk melihat berapa valuasi Ant Group setelah mengumumkan restrukturisasi. Bagaimanapun, penilaian yang dibuat Fidelity Investment pada akhir Februari tidak akan memperhitungkan dampak restrukturisasi tersebut yang diumumkan pada bulan April.

Saat menilai saham perusahaan swasta, komite penilaian akan mempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang mencakup kinerja pasar dari pesaing publik, arus kas masa depan yang diharapkan, metrik keuangan lainnya dan informasi terbaru tentang perusahaan.

“Ada banyak sekali penilaian yang masuk ke dalam penilaian,” kata Murray Grenville, CEO dari Sterling Valuation Group, sebuah perusahaan yang berbasis di New York yang membantu dana investasi menilai aset yang tidak likuid, kepada Wall Street Journal.

Murray menambahkan, biasanya investor startup akan menahan kepemilikan saham sebelum keluar melalui IPO atau penjualan. “Kalau tiang gawang sudah pindah… perlu diperhatikan valuasinya,” ucapnya.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban