Saling Komentar Kerumunan Pasar Tanah Abang: Mengkhawatirkan; Buatkan Aplikasi, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
15

Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Pasar Tanah Abang menjadi sorotan setelah terjadi kerumunan pedagang dan pembeli di sana pada akhir pekan lalu. Masalahnya kerumunan itu terjadi saat pandemi sehingga bisa jadi tempat penularan virus corona yang berujung pada klaster baru.

Menanggapi kondisi itu Pemprov DKI bersama Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya pun membuat siasat. Penjagaan di pasar tersebut diperketat. Kepolisian, TNI dan Satpol PP berjaga sejak pagi untuk memastikan protokol kesehatan (prokes) berjalan dengan baik.

“[Blok] A, B, F, G itu lima tapi satu plotting ABFG sama Pasar Grosir di atas. Personel ada di setiap pintu masuk ada 17 pintu masuk itu akan ada pengamanan dari tiga pilar. Untuk mengecek prokes suhu dan penggunaan masker dengan benar karena kita lihat kadang dia pakai masker cuma tidak benar makainya,” kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Singgih, saat dihubungi, Senin (3/5).

Pengawasan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (3/5). Foto: Dok. Wali Kota Jakarta Pusat

Tidak hanya di dalam pasar, kondisi di luar pasar juga diawasi. Pedagang yang akan membuka lapak di pinggir jalan tidak diizinkan demi menghindari terjadinya kerumunan.

Lonjakan pengunjung Pasar Tanah Abang memang luar biasa. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut, lonjakan pengunjung Pasar Tanah Abang pada Sabtu (1/5) kemarin, mencapai 87 ribu orang. Bahkan, pada Minggu mencapai 100 ribu orang pengunjung.

Kondisi ini tentu mengkhawatirkan mengingat Pasar Tanah Abang merupakan lokasi yang tertutup.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio mengatakan suhu dan kelembaban rendah menyebabkan virus lebih cepat berkembang, lebih mudah menular dari satu orang ke orang lain. Hal ini menyebabkan dosis atau konsentrasi virus di dalam ruangan lebih tinggi.

Mengingat bahayanya kerumunan dalam ruangan seperti di Tanah Abang membuat sejumlah pihak mengomentari apa yang terjadi di sana. Berikut komentar mereka:

Pengawasan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (3/5). Foto: Dok. Wali Kota Jakarta Pusat

Masih ada Sabtu-Minggu jelang Idul Fitri

Anggota DPRD DKI Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak, meminta agar Pemprov DKI meningkatkan kewaspadaan mereka. Pasalnya Minggu depan masih ada akhir pekan sebelum Idul Fitri.

“Masih ada Jumat, Sabtu, Minggu ini menjelang Id, tentu lebih banyak seperti tahun-tahun sebelum pandemi,” ujar Gilbert saat dihubungi, Senin (3/5).

“Menjelang Id dan masih ada Sabtu Minggu ini, harus diantisipasi kemungkinan makin membeludak,” tambahnya.

Anggota Komisi II DPR Fraksi PKB Luqman Hakim. Foto: Dok. Istimewa

Kerumunan tidak hanya di Pasar Tanah Abang

Politikus PKB Luqman Hakim menilai kerumunan jelang lebaran tidak hanya di Pasar Tanah Abang, tapi di beberapa pasar swalayan dan mal-mal lainnya juga.

“Membludaknya pengunjung Pasar Tanah Abang Jakarta beberapa hari ini juga terjadi di banyak daerah. Saya menerima laporan seminggu terakhir terjadi peningkatan aktivitas belanja masyarakat, di pasar-pasar, mal dan swalayan di banyak daerah dalam rangka belanja kebutuhan lebaran,” kata Luqman dalam keterangannya, Senin (3/5).

Wakil Ketua Komisi II DPR itu menilai kerumunan yang terjadi di pusat ekonomi memiliki sisi baik dan buruk. Baiknya menjadi tanda ekonomi telah kembali pulih. Buruknya kerumunan itu berpotensi terjadi pelanggaran prokes yang ujungnya membuat kasus corona meningkat.

Jangan jadi seperti India

Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo meminta agar pemerintah segera melakukan konsolidasi dengan stoke holder untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kembali kerumunan terebut. Ia meminta pemerintah belajar dari kasus corona yang terjadi di India.

“Hendaknya kita bisa belajar seperti yang terjadi di India saat ini. Negara tersebut sedang dihantam pandemi COVID-19 karena banyak kerumunan masyarakatnya di beberapa tempat,” kata Rahmad.

Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Kurang afdal tak belanja di Pasar Tanah Abang

Ketua Fraksi Gerindra DKI Rany menilai kerumunan di Pasar Tanah Abang bukan hanya disebabkan karena harga yang murah, tapi juga adanya tradisi sebagian orang. Mereka merupakan bagian yang merasa kurang lengkap jika Lebaran tidak belanja di sana.

“Bisa aja, sih [ke pasar lain], tapi, kan, semua kembali ke masyarakatnya lagi. Kadang ada orang yang tidak masalah harga berbeda sedikit, asal lebih mudah dan tidak ramai pasarnya,” ujar Rany saat dihubungi, Senin (3/5).

“Tapi ada yang merasa kurang afdal kalau bukan di Tanah Abang dan selisih harga jadi problem. Padahal tidak jarang harganya mungkin sama saja. Semuanya balik ke mindset masyarakatnya itu sendiri,” lanjutnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR F-NasDem Ahmad Sahroni. Foto: DPR

Kebijakan buka tutup

Salah satu strategi Anies untuk mengurai kerumunan di Pasar Tanah Abang ialah dengan sistem buka tutup. Jadi para pedagang saling bergantian untuk membuka lapaknya.

Kebijakan ini diapresiasi oleh Anggota DPR Dapil Jakarta Ahmad Sahroni. Sebab, hal itu menurutnya jalan tengah antara protokol kesehatan dan roda ekonomi masyarakat.

“Tapi, saya juga paham bahwa roda ekonomi tidak bisa disetop begitu aja, jadi enggak mungkin ada penutupan full, jadi saya setuju dengan konsep buka tutup ini, paling tidak pengunjungnya dibatasi, dan dengan petugas yang betul-betul menegakkan aturan ini,” papar Politikus NasDem itu.

Mardani Ali Sera. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Buat aplikasi untuk batasi pengunjung

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, menilai seharusnya ada SOP yang diterapkan pemerintah daerah. Dia heran Pemda tidak bisa mengantisipasi kepadatan seperti yang terjadi di Pasar Tanah Abang.

Mardani mendorong agar pengunjung yang datang ke pasar dibatasi. Jika tak bisa dicegah manual, mungkin bisa melalui aplikasi yang intinya agar kepadatan di pasar dapat dikendalikan.

“Misal buatkan aplikasi. Jumlah yang bisa disetujui dibatasi per hari sesuai dengan alokasi waktu,” ujarnya.

“Misal pukul 08.00-10.00 WIB untuk 5 ribu pengunjung, 10.15-12.00 WIB sama untuk 5 ribu pengunjung, dan seterusnya. Mereka yang melewati limit kena denda progresif. Semua akan nurut,” tambahnya.

Mardani memastikan masih ada waktu jika kebijakan tersebut diterapkan. Sehingga, tak ada lagi kasus serupa yang bisa memicu peningkatan penyebaran COVID-19.

“Bisa jadi memang tidak diprediksi. Tapi masih ada waktu untuk segera menerapkannya,” pungkasnya.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban