Rans Cilegon FC Buka Suara soal Wacana Liga 2 Pakai Pemain Asing, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
5

Logo Rans Cilegon FC Foto: Instagram/@raffinagita1717

Ada wacana Liga 2 2021 akan menggunakan jasa pemain asing. Ide ini muncul beberapa bulan sebelum kompetisi Indonesia vakum karena hantaman pandemi corona pada 2020 lalu.

Ide ini tenggelam. Setahun berlalu. Namun, ide ini muncul lagi dengan penggagas yang sama: Sriwijaya FC.

Klub beralias Laskar Wong Kito ini secara terang-terangan bersurat ke PSSI. Sriwijaya juga melampirkan alasan mengapa mereka menginginkan jasa pemain asing.

Cukup 2 pemain saja, kata salah satu pejabat di manajemen Sriwijaya. Lagi pula, bisa menambah geliat sepak bola Liga 2, kata dia menambahkan saat ngobrol dengan kumparan pada 7 April 2021.

Para pemain Sriwijaya merayakan gol. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA

Tak ada yang mengamini. PSSI masih belum memberikan respons. Sebab, segala keputusan regulasi akan diputuskan di Kongres Tahunan. Untuk tahun ini, akan dilakukan pada 29 Mei 2021.

Namun, sudah ada yang memberikan respons. Adalah Rans Cilegon FC. Klub yang baru diakuisisi oleh artis Raffi Ahmad ini menolak adanya penggunaan pemain asing. Demikian penuturan pelatih mereka, Bambang Nurdiansyah alias Banur.

”Menurut saya jangan, ya. Biarkan pemain asing berkompetisi di Liga 1 saja. Liga 2 ini mari kita sepakati buat ajang pemain muda-muda untuk bertanding, biar punya pengalaman, dan biar punya pemain lokal yang baik,” kata Banur kepada kumparan, Senin (3/5).

Bambang Nurdiansyah pimpin latihan Rans Cilegon FC. Foto: Instagram/@rans.cilegonfc.official

Untuk Liga 1, PSSI dan PT LIB selaku operator kompetisi sudah menetapkan bahwa penggunaan asing untuk satu klub adalah 3+1. Artinya, 3 pemain asing bebas dari negara mana saja dan satu slot Asia.

Pakem regulasi pemain asing ini sudah mengadopsi dari AFC untuk kompetisi lokal. Di kancah Liga 1, sistem ini sudah digunakan sejak 2017.

Sementara, Liga 2 tak menggunakan pemain asing. Sejatinya, regulasi ini diputuskan oleh PSSI. Mengedepankan jam terbang pemain muda jadi pertimbangan ketika merumuskan regulasi ini.

”Liga 1 itu menurut saya juga sudah terlalu banyak asingnya. Kalau ditambah Liga 2 juga terlalu repot kita, bos!” kata Banur.

Sriwijaya sejatinya melontarkan ide demikian juga bukan tanpa dasar yang kuat. Kebutuhan bisnis mungkin saja terselip. Karena, kata manajemen mereka, di waktu kami hubungi adalah perkara mencari sponsor.

Di tengah pandemi, mencari sponsor jelas bukan pekerjaan mudah. Makanya, Sriwijaya ingin kompetisi di level kedua bisa meriah, greget, dan ada warnanya dengan adanya pemain asing.

”Kenapa, sih, karena kepentingan kelompok, kepentingan tertentu, lalu mengorbankan pembinaan? Ya, menurut saya, janganlah. Kita ini mesti melihat kepentingan sepak bola ini skalanya nasional, bukan hanya segelintir saja,” kata Banur.

Persita menjamu tim Rans Cilegon United. Foto: Twitter/@Persitajuara

Pelatih yang pernah berseragam Timnas Indonesia ini menambahkan ketimbang menggunakan jasa pemain asing, ada baiknya mengedepankan produk lokal. Pasalnya, di ajang level kedua sepak bola nasional ini mereka bisa unjuk gigi.

”Kalau Liga 2 diberikan juga kesempatan buat pemain asing, bagaimana nanti bagaimana mereka? Jadi berkurang dong dan kesempatan mereka meningkatkan kualitas dan teknik mereka,” tutur eks pelatih PSIS Semarang ini.

”Ingat, bakat saja tidak cukup. Sebab, pemain-pemain muda ini kudu ada pengalaman dan jam terbang berkompetisi. Di Liga 2 ada asing kita repot.”

”Oke, mungkin secara bisnis menguntungkan. Bussiness is bussiness tapi kan kita mesti sejalan juga dengan prestasi [sepak bola] kita.”

”Di Liga 1 saja, lokal kita juga makin bisa dihitung. Ada sejumlah pemain yang dinaturalisasi dan di mana lagi slot pemain kita kan?” kata Banur.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban