Melihat Tradisi Mencari Cacing Laut di Pulau Morotai, Maluku Utara, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
2

Mencari laor di Pulau Morotai, Maluku Utara.

Mencari laor atau cacing laut sudah menjadi tradisi turun-temurun warga di pesisir Morotai, Maluku Utara.

Aktivitas falo atau ambil laor selalu dilakukan beramai-ramai dan serentak di hampir seluruh pesisir. Pasalnya, biota yang dijadikan santapan ini hanya muncul dua kali dalam setahun.

Laor biasanya muncul pada bulan April dan Mei. Ukuran cacing laut ini berkisar 2 sentimeter hingga 30 sentimeter.

“Di bulan-bulan lain susah ditemukan,” ungkap Sarman Rahase Sibua, salah satu warga yang ditemui di lokasi falo laor Tanjung Gurango Desa Gorua, Kecamatan Morotai Utara, Minggu (2/5).

Selain Tanjung Gorango, lokasi falo laor yang tergolong ramai adalah Tanjung Dehegila, Tanjung Sangowo, dan Tanjung Pinang.

Alat menangkap laor terbilang sederhana. Hanya berupa jaring berlubang kecil atau kain.

“Ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Setiap datangnya bulan April dan Mei atau pada bulan Mei dan Juni, warga sudah bersiap-siap untuk berburu mencari laor pada malam hari. Saat musim laor tiba, warga setempat ramai berbondong-bondong mendatangi lokasi pantai yang dikenal sebagai tempat bersarangnya cacing laut ini,” jelas Sarman.

Warga yang akan berburu cacing berwarna hijau, oranye, dan merah ini biasanya sudah menunggu di tepi pantai sejak pukul satu dini hari. Mereka mendirikan tenda-tenda dan membuat api unggun. Pencarian laor menggunakan lampu penerangan di tengah gelap malam.

Falo laor baru berhenti setelah matahari terbit.

“Jadi kalau bulan April itu hitungannya hari ke 4 sampai 5 usai bulan purnama. Kalau di bulan Mei itu hari ke 5 sampai 6 usai purnama. Itu menurut hitungan orang tua dulu, dan itu memang betul pada hari-hari sesuai hitungan itu laor keluar,” tutur Sarman.

Alat menangkap laor terbilang sederhana. Hanya berupa jaring berlubang kecil atau kain.

Warga Morotai beramai-ramai mencari laor atau cacing laut.

“Cara tangkap laor ini cukup gampang. Laor ini bersembunyi di balik batu karang atau bebatuan lain di laut. Jadi pada saat waktunya untuk menangkap maka di situ lah ratusan laor ini akan mengerumuni sekitar kita. Saat muncul itulah, para nelayan ini menangkap laor dengan menggunakan jaring-jaring kecil atau penyaring lainnya,” jelas Arsad Malase, pemburu laor lainnya yang jauh-jauh datang dari Kota Daruba ke Tanjung Gorango.

“Alat penangkap laor ini terbuat dengan bermacam-macam dari jenis kain. Misalnya pakai kelambu dan sejenisnya,” tambah dia.

Arsad mengaku, pendapatan pemburu laor tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab tahun ini hasil buruan tak sebanyak tahun lalu.

“Kali ini tidak terlalu banyak, beda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu kita bisa dapat satu karung beras ukuran 25 kg per orang, tapi kali ini kita tidak bisa mencapai di angka itu,” tandasnya.

Laor yang sudah ditangkap biasanya diolah menjadi berbagai macam hidangan. Protein dalam laor bahkan mengalahkan protein telur ayam dan susu sapi. Laor juga mengandung karbohidrat, fosfor dan zat besi yang tinggi.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban