KIPI Jabar: Efek Samping Vaksin Corona Sangat Kecil Dibanding Manfaatnya, kumparan – #kumparanAdalahJawaban

0
12

Vaksinator menyiapkan vaksin COVID-19 Sinovac dosis kedua sebelum disuntikan ke tenaga kesehatan saat Gebyar Vaksin COVID-19 di ITB, Bandung. Foto: M Agung Rajasa/ANTARA FOTO

Komite Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat memastikan kelumpuhan dan nyaris buta yang dialami Susan Antela (31) bukan karena vaksin corona. Susan yang merupakan guru asal Sukabumi itu mengalami gejala usai vaksinasi namun menurut Ketua Komda KIPI Jabar Kusnandi Rusmil, wanita tersebut sudah terkena virus Guillain Barre Syndrome (GBS) sebelum divaksin.

Kusnandi mengatakan, Susan sudah terinfeksi virus penyebab GBS dua pekan sebelum vaksin tanpa gejala apa pun sehingga tidak terdeteksi saat skrining sebelum vaksinasi. Buramnya penglihatan dan juga lemahnya anggota gerak secara kebetulan terjadi usai Susan mendapatkan vaksin.

Menurut dia, Susan mendapatkan imunisasi atau tidak, dampak terinfeksi virus penyebab GBS akan terjadi seperti yang dialami saat ini yaitu buramnya penglihatan dan lemahnya anggota gerak.

“Kalau ada reaksi vaksin yang berat itu dari 1 juta orang yang divaksinasi hanya satu orang yang mengalami tapi itu masih bisa disokong yang lainnya dan terlindungi. Namun efek samping tersebut sangat kecil dibanding dengan manfaat yang akan dirasakan dengan diimunisasi, yaitu lebih banyak keuntungannya,” tutur Kusnandi dalam keterangannya, Senin (3/5).

Adapun hingga tanggal 21 April 2021, sudah 20 juta dosis vaksin diberikan pada warga Indonesia dan tidak ditemukan keluhan gejala klinis serupa yang dilaporkan, termasuk dari uji klinis vaksin COVID-19 tahap 1-3.

Hasil audit Komnas KIPI, saat ini belum ditemukan bukti kuat soal keluhan gejala klinis Susan terkait vaksin berdasarkan dari hasil surveilen KIPI dan Kejadian Ikutan dengan Perhatian Khusus (KIPK).

“Kesimpulannya belum cukup bukti untuk menyatakan antara hubungan mata buram dan kelemahan anggota gerak dengan vaksinasi COVID-19,” ucap dia.

GBS merupakan penyakit saraf yang jarang ditemukan. Susan didiagnosa menderita penyakit GBS setelah menjalani perawatan dan rangkaian pemeriksaaan dengan CT Scan torax (dada), darah dan saraf.

“Hasil audit Komnas KIPI, SA 31 tahun wanita mengalami keluhan mata buram dan kelemahan anggota gerak. Mata buram perlahan 12 jam pasca imunisasi, dilakukan rujukan ke RS selama 23 hari dari 1 April 23 April. SA sudah menjalani CT scan torax, darah dan fungsi sarafnya dan didiagnosa GBS,” kata Kusnandi.

KIPI Kabupaten Sukabumi, Eni Pokja KIPI mengatakan, kondisi Susan menunjukkan perbaikan dan sudah bisa memijat. Namun untuk kaki belum maksimal. Susan masih harus menjalani fisioterapi untuk mengembalikan fungsi motoriknya.

“Untuk fisioterapi sendiri kami akan memfasilitasi di RS Pelabuhan Ratu. Di sana sudah siap fasilitasnya. Di sana ada spesialis syaraf, mata, fisioterapi, sedangkan rehabilitasi medik ada di Sekarwangi. Proses ini akan membantu penyembuhan SA. Saya laporkan juga di sana untuk obat-obatan SA sudah ada, semoga mempercepat penyembuhan SA,” ungkap dia.

Pihaknya juga akan koodinasi dengan puskesmas untuk dibantu sistem rujukan selanjutnya. Selain itu SA akan selalu dipantau dan diterapi oleh tim RS Pelabuhan Ratu.

, kumparan – #kumparanAdalahJawaban